Lenggak-lenggok 24 Jam

 

Ketika melihat performance tarian pada event Solo Menari, judul diatas datang dengan sendirinya bak peluru diarahkan ke jidat lebar saya dan langsung masuk ke otak kanan seketika (ngomong-ngomong jidat saya juga agak menonjol). Pada tulisan saya kali ini, saya akan menulis tentang event Solo Menari yang diadakan setiap tahun oleh Pemerintah Kota Solo melalui Dinas Kebudayaan.

Perhelatan Solo Menari diadakan bertepatan dengan Hari Tari Sedunia, tanggal 29 April. Tahun ini (tahun 2017) adalah perhelatan yang ke-11. Tahun-tahun sebelumnya pun saya juga mengikuti (ikut nonton maksudnya bukan ikut nari, haha..) namun saya akan mulai mengulas dari tahun ini saja karena tahun-tahun sebelumnya belum ada niat menulis dan tidak ada dokumentasinya.

Ceritanya begini…

Sabtu, 29 April 2017 bertepatan dengan malam minggu. Saya menghadiri undangan syukuran aqiqah anak dari teman dulu sebelum saya mengunjungi event Solo Menari. Selesai makan-makan gratis (nalurinya tetep nyari yang gratisan, haha..), saya meluncur dari daerah stasiun Solo Balapan menuju Kampus ISI Solo (Institut Seni Indonesia) dengan diantar naik mobil (ini juga gratisan..haha). Perjalanan agak macet karena pas malam minggu, banyak cabe-cabean yang patroli menuju arah kota. Saya sampai di area kampus ISI Solo jam 20.30, suasana malam itu agak sedikit basah karena memang habis hujan. Jalan yang membelah kampus ISI Solo ditutup untuk tempat stand yang menjual souvenir ataupun makanan. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengambil gambar keadaan sekitar.

Disini saya hanya melihat-lihat, karena gak ada yang gratis, haha..

Karena pas di acara temen kebanyakan minum es dan buah, maka saya harus memenuhi tuntutan alam dulu supaya nyaman, hehe,, Sempat salah masuk toilet wanita (beneran gak sengaja), akhirnya saya menemukan toilet pria yang terletak di belakang ATM, memang sih, logo toiletnya agak samar-samar, jadi harus jeli dalam melihat (bisa dijadikan alasan bagi yang ingin sengaja salah masuk toilet, haha..). Selesai berpartisipasi menyumbang kesenian (baca: pipis). Saya keluar dan menuju teater kecil. Karena toilet terletak satu bangunan dengan teater kecil jadi lebih dekat. Awalnya saya mengurungkan niat untuk masuk, karena sepertinya ruang teater kecil sudah penuh sesak, dan penontonya sampai berdiri di depan pintu masuk. Dalam hati sempat bergejolak untuk masuk atau tidak. Akhirnya setelah berdiskusi dengan diri sendiri dan mengumpulkan niat dan tenaga untuk ikut serta berdesakan, saya putuskan untuk masuk ruang teater kecil, namun setelah saya berada di ambang pintu masuk, penonton pun berhamburan keluar ruangan (wah,pikir saya lumayanlah ada beberapa penonton yang keluar, jadi ada tempat untuk saya menonton pertunjukan). Setelah melalui pintu masuk dan masuk ke dalam, suasana gelap dan hening,,

ZzzzZzz…..ZzzzZzzz…ZzzzZzzz….ZzzzzZ….

Oke,,ternyata pertunjukkan di teater kecil sudah selesai (atau break saya juga kurang tahu). Agak kurang hoki sepertinya malam itu, mungkin karena faktor sering mengharapkan gratisan, hahaha..

Kemudian saya berjalan menuju pendhapa, langkah kaki ini menjadi secepat Sonic karena didorong oleh keinginan luhur untuk menuju kebebasan (gak nyambung,,iya..)

…Daaaaannnn….

Wuuuussshhhhh…

Saya sudah sampai pendhapa 5 detik kemudian (NB: jarak teater kecil ke pendhapa 5 meter)

Sampai di pendhapa, saya mulai ikut berdesakan. Dengan sedikit senggol kanan dan senggol kiri, akhirnya saya mendapat tempat terdepan, suasana mendadak gerah, mungkin karena ada banyak penonton yang sama-sama mengeluarkan karbondioksida (atau mungkin juga kentut, hihihi..) Waktu di pendhapa, saya sudah disuguhi oleh tari Golek Montro.

Cantik dan anggun. Sangat menggambarkan wanita keraton ya gaesss…

Tari Golek Montro adalah perwakilan dari Pura Mangkunegaran Kemantren Langenpraja. Berdasarkan sumber yang saya dapat dari bertanya kepada salah seorang panitia, tarian tersebut menggambarkan gadis-gadis yang tinggal di lingkungan keraton yang sedang beranjak dewasa. Gerakan tarianya lemah gemulai berlenggak lenggok mengikuti irama gamelan yang dimainkan secara LIVE sehingga tampak menggambarkan seorang wanita dewasa (jaman dulu tapi, kalau wanita dewasa sekarang mah, no comment, haha..). Sesekali juga gerakan tariannya sedikit cepat atau lincah yang menggambarkan karakter seorang remaja. Tarian ini berdurasi sekitar setengah jam. Penari-penarinya sangat cantik dalam balutan rompi hitam khas tari golek, mahkota berwarna emas dengan dihiasi bulu ayam berwarna merah jambu (kalau ini gak begitu yakin apakah dari bulu ayam atau bulu angsa, atau bulu-bulu yang lain, hihihi..), jarik dan sampur motif batik yang sangat klasik. Badan mereka pun tampak langsing (entah karena faktor puasa dulu sebelum perform apa memakai korset, hehehe..) dan selama membawakan tarian, mereka selalu tersenyum kecil (kalau dalam bahasa Jawa mesem) yang membuat mereka sangat cocok dengan karakter remaja yang beranjak dewasa.

Disamping itu penjiwaan masing-masing penari juga sangat bagus sehingga makna dari tarian tersebut tersampaikan. Merinding nontonnya, bukan karena mistis ataupun nahan pipis, tapi pertunjukan malam itu bak mesin waktu yang membawa saya kembali ke masa lampau. Masa dimana hanya makan nasi kecap sama kerupuk, HAHAHA…

Setelah tari Golek Montro selesai, pembawa acara muncul dari balik panggung. Dari informasi yang saya dengar dari pembawa acara, tarian berikutnya adalah tari Bedhaya Renyep dari Langen Praja Kadipaten Pakualaman Jogjakarta. Masih dari si pembawa acara juga bahwa tarian ini ditarikan oleh 8 penari putri. Waktu saya melihat tarian ini, suasana mistis sungguh terasa.

What lovely dancers..

Rasa kagum saya melebihi tarian sebelumnya. Sehingga saya tertarik untuk mencari tahu lebih jauh informasi tentang tarian ini. Berdasarkan informasi yang saya dapat setelah searching sana-sini, tari Bedhaya Renyep menggambarkan sifat dari Raja yang memegang kekuasaan kerajaan dengan jujur, adil, tegas, dan penuh tanggung jawab. Bener juga sih, kalau dilihat dari penarinya memang terkesan berwiwaba. Kalau menurut pembawa acaranya, tarian tersebut merupakan gambaran dari keharmonisan kehidupan yang dinamis,,(beuhhh…puitis gak tuh kalimatnya). Durasi tari Bedhaya Renyep ini kurang lebih sekitar setengah jam juga. Ketika duduk dan menontonya, saya terhipnotis kembali ke masa lalu, membayangkan suasana jaman dulu, ketika simbah masih suka main gundu,hahaha.. Bulu kuduk sayapun berdiri karena saya kagum dengan kebudayaan dan kesenian yang dimiliki Indonesia ternyata sangat indah.

Sangat karismatik. Membuat saya merinding all the time…

Tarian terakhir yang akan saya ulas adalah tari Saman. Kenapa terakhir,,karena malam itu saya sudah mengantuk, dan keesokan harinya saya akan ke Magelang untuk urusan mbolang, hihi…

Tari Saman merupakan tarian yang berasal dari Aceh, provinsi paling barat Indonesia. Tari saman adalah salah satu media pencapaian dakwah, agama, dan sopan santun. Yang unik dari tarian ini adalah tarian ini tidak menggunakan alat musik untuk mengiringinya. Tarian tersebut diiringi dengan suara tepukan dada dan pangkal paha penarinya (yang otaknya ngeres, saya sumpahin botak), meskipun begitu suara yang berasal dari tubuh tersebut mampu menciptakan harmoni dan sinkronisasi serta stasusisasi yang enak di telinga (bang Vicky, saya kutip satu kata ya, hihihi..). Di depan kedua belas penari, terdapat seorang pemimpin / pemandu yang disebut syekh. Gerakan tarianya bikin olahraga bola mata gaesss.. ketika saya menyaksikan tari Saman, bola mata saya mengikuti gerakan tangan dan kepala penari-penarinya, alhasil pusing sendiri lihatnya. Dua jempol lah buat penari-penarinya yang sanggup menarikan dengan sempurna tanpa ada yang ketabok (kalau saya yang main mah udah nombok cek up dokter patah tulang). Penampilan tarian tersebut juga sukses mengundang tepuk tangan riuh penonton malam itu.

 

Saya memutuskan pulang setelah melihat pertunjukan tari Saman karena mata sudah mengantuk dan pori-pori sudah capek karena terus-terusan menegang, hahaha… Saya pulang dengan order gojek dengan ongkos Rp. 8.000.

Kesan-kesan saya setelah menonton event Solo Menari, (ehmm, serius bentar..) :

  1. Indonesia memiliki banyak ragam budaya dan keunikan. Contoh yang saya dapat dari event tersebut adalah tarian dan baju. Banyak penari-penari berseliweran dengan memakai kostum tari yang (menurut saya) unik.
  2. Didalam tarian-tarian yang dipertunjukkan terdapat nilai-nilai serta pesan-pesan yang luhur. Ketika pembawa acara menyampaikan pesan dari tarian yang akan dibawakan, sumpah saya merinding disko karena saya membayangkan indahnya apabila pesan yang ada dalam tarian tersebut nyata dan ada di dunia
  3. Para penari sangat menjiwai tarian yang dibawakan. Sangat menyejukkan mata ketika melihat penari mampu merepresentasikan karakter dari tarian tersebut melalui ekspresi wajah dan tubuh.
  4. Yang paling penting ini, haha.. Tarian-tarian tersebut sukses membuat saya terbang ke masa lalu dengan membayangkan situasi dan kondisi tempoe doeloe. Rasa bangga, kagum, senang, dan sedih menjadi satu. Senang dan bangga karena ternyata kita orang Indonesia memiliki begitu banyak keragaman seni dan budaya yang merupakan ciri khas dan karakter kita. Kagum karena melihat para penari yang begitu menjiwai dan menyatu dengan alunan instrumen musik sehingga melarutkan segenap hati dan jiwaku (bukan lebai, tapi emang kenyataan, hehe..). Sedih karena waktu dan tempat yang terbatas ketika ingin menikmati sajian seni dan budaya tersebut.