“1999 Lampion Candi Borobudhur”

 

Rabu, 10 Mei 2017 pukul 17.00 waktu yang saya tunggu hari itu akhirnya datang juga,, YAHHHH !! PULANG KERJA !!!… Malam itu ada event pelepasan lampion di Candi Borobudhur untuk menyambut hari raya umat Budha, Waisak. Setelah tahun lalu gagal melihat event tersebut karena terlalu banyak perencanaan dan pertimbangan akhirnya tahun ini saya bulatkan tekad untuk mengunjungi event tersebut. Seperti biasa, I’m EXCITED…

Saya pulang kerja dengan terburu-buru. Persiapan serba mepet dan minim bahkan belum booking penginapan. Niat saya melihat event pelepasan lampion mengalahkan semua persiapan yang ribet (pokoknya langsung gas dulu). Saya berangkat dari rumah jam 18.00. Dalam benak saya, tercapailah angan-anganku selama ini untuk bisa melakukan perjalanan jauh (ataupun agak jauh) pakai motor pada malam hari, hihihi… rasanya seperti berada di dalam negeri permen (permenya na**-**no). Perjalanan ke Magelang kali ini, saya mengambil rute (katakan peta..katakan peta..)

Solo –> Kota Boyolali –> Selo –> Ketep Pass –> Muntilan –> Borobudhur.

Saya bersama seorang teman. Yaaaappp,, dia adalah Bayu, hihihihi…my loyal travel partner.

Perjalanan dari Solo cukup lancar dengan cuaca sedikit gerimis. Gerimis berubah menjadi hujan lebat begitu keluar dari Solo. Kami berhenti sejenak di jalan untuk mengenakan jas hujan. Dalam perjalanan kami sangat berhati-hati karena truck tronton, trailer dan bus kota menjadi teman seperjalanan kami. Sampai di Boyolali kota mendadak hujan berhenti. Tapi kami masih tetap mengenakan jas hujan supaya kalau hujan kami tidak perlu lagi berhenti. Target kami untuk sampai di Borobudhur adalah jam 21.00 karena menurut informasi yang saya dapat event pelepasan lampion dimulai pukul 21.00.

Kami berhenti sejenak untuk mengisi perut di daerah Selo, Boyolali. Kami memilih restoran mini namanya “Matmoen White House”. Lokasi tepatnya sebelum Polsek Selo. Kafe minimalis ini menawarkan menu makanan steak dan mie.

Yang sering mendaki gunung Merbabu pasti sudah tidak asing dengan warung makan ini, hehehe..

Saya memesan Mongolian Chicken Steak sedangkan Bayu memilih Yang Mi (seperti masakan mie kuah pada umumnya dengan tingkat kepedasan level 2) serta 2 teh hangat untuk menghangatkan badan kami yang menggigil karena masih sedikit basah karena kehujanan ditambah hawa dingin pegunungan. Rasanya lumayan enak, recommended buat kalian yang bingung cari tempat makan di daerah Selo. Harga makanan juga terbilang cukup terjangkau. Menu yang kami pilih diatas cuma habis Rp. 24.000.

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan. Jalan dari Selo menuju Ketep Pas agak sedikit macet karena sedang ada pengecoran jalan. Sehingga jalan menggunakan sistem buka tutup (udah kaya di jalur pantura pas musim mudik aja nih, hehe..).

Kami berhenti selama kurang lebih 20 menit

Bagi kalian yang akan melewati jalan ini, saya sarankan untuk tetap hati-hati. Banyak kerikil dan juga sisa jalan aspal yang rusak parah. Tidak hanya itu, di sisi kiri (kalau dari rute berangkat kami) ada besi yang menjulur dari jalan yang habis di cor. Pokoknya harus ekstra hati-hati. Mulai memasuki lokasi Ketep Pas, jalan sudah lumayan enak dilalui, meskipun masih banyak gelombang. Pas di jalan menuju Ketep Pas, keadaan sangaaaaaaattt sepi. Kami benar-benar sendiri, tidak ada barengan kendaraan lain. Keadaan sebelah kiri jurang, sebelah kanan hutan lebat, dengan kondisi jalan yang rusak dan menanjak serta banyak tikungan. Sempat merinding juga sih, tapi untuk mengakalinya kami ngobrol-ngobrol gak penting. Biar suasana tidak begitu senyap.

Kami sama-sama terdiam ketika pas di tikungan ada bapak-bapak yang duduk sendiri di gubug pinggir jalan memakai jaket dan celana panjang hitam. Di dalam kesunyian, bapak tersebut menatap ke arah hutan dengan tatapan kosong dengan posisi kaki selonjor. Padahal udara sangat dingin. Tapi kami lega karena ada motor yang terparkir tak jauh dari gubug. Setidaknya bapak-bapak tersebut manusia tulen lah.

Fiuhhh…

Akhirnya setelah sampai di lokasi Ketep Pas keadaan sudah lumayan ramai. Dan kondisi jalan juga sudah enak untuk dilalui.

Pukul 21.00 kami sudah sampai di Muntilan. Kami berhenti sejenak di indomaret untuk buang air kecil dan beli minuman. Kami juga merokok sembari meluruskan kaki yang sudah terasa kaku. Rasanya lega ketika melihat keramaian, haha.. Kami melanjutkan perjalanan kemudian sesaat setelah rokok habis.

Pukul 21.30 kami sampai di Borobudhur. Suasana sangat ramai dan macet. Untuk mendapatkan tempat parkir kami harus putar-putar dulu dan bertanya kepada tukang parkir. Saat itu, event pelepasan lampion sudah dimulai. Setelah mendapatkan tempat parkir yang terletak pas di depan pintu masuk candi Borobudhur, kami langsung masuk menuju lokasi pelepasan lampion. Setibanya di lokasi, suasana sangat ramai dan padat. Bahkan ada pengunjung yang tiduran di atas rumput sambil melihat lampion yang dilepaskan. Dalam hati saya, sampai begini ya animo masyarakat tentang event tersebut. Hal itu bahkan di luar ekspektasi saya.

 

Keramaian pengunjung malam itu..

Dan benar, sayapun tidak menyesal jauh-jauh datang dari Solo melewati jalur dan sikon yang ekstrim. Lampionnya sangaaaaaaaattt indah. Mata yang semula capek karena seharian menatap monitor mendadak melebar selebar mata penari bali. Sebelum diterbangkan, lampion dipersiapkan dengan dibantu oleh panitia. Sembari menunggu persiapan, lampion didoakan terlebih dahulu oleh MC. Setelah persiapan dan doa selesai, lampion dilepaskan secara serentak. Pelepasan lampion diadakan di lokasi bernama Aksobya. Ada 1999 lampion yang diterbangkan malam itu (berdasar informasi yang saya lihat di mmt yang terletak di altar). Sebenarnya kondisi di area Aksobya agak kurang kondusif karena banyak pengunjung yang menerobos garis batas (jujur, termasuk kami) demi bisa melihat pelepasan lampion dari dekat.

 

Panitia membantu pengunjung yang belum paham cara menerbangkan lampion

Sesaat sebelum lampion diterbangkan serentak

 

Lampionpun diterbangkan bersama-sama. how a lovely moment..

Oiya, bersama tulisan ini, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak 2561/2017 kepada umat Budha.

Pukul 24.00 kami memutuskan kunjungan kami karena kami harus mencari penginapan dulu. Sesampainya di tempat parkir, kami ditawari oleh tukang parkir. Jadi tukang parkir tersebut punya rumah dengan 3 kamar dan disewakan sebagai penginapan. Kami ditawari harga Rp. 200.000. Kami memutuskan untuk melihat dulu kamarnya. Lokasi nya di depan vihara, tidak tahu nama viharanya apa tapi yang jelas namanya Graha Padmasambhava . Setelah kami lihat, kamarnya cukup bersih dan layak ditempati akhirnya kami setuju, karena kami sudah capek dan mengantuk. Meskipun dengan harga Rp. 200.000 terbilang mahal untuk harga guest house. Suasana di dalam kamar panas dan tidak ada AC. Untung ada jendela yang menjadi AC alami. Letak kamar kami di lantai 2, jadi untuk megurangi rasa panas, saya membiarkan tidur dengan jendela terbuka. Penginapan hanya menyediakan air mineral gelas. Teh dan kopi (sudah disertakan gulanya, tapi gak ada air panasnya, hadeuhhh..). Untuk sarapan, penginapan hanya menyediakan kompor. Bahan makanan diminta untuk beli sendiri, hahaha… Saya tertidur jam 03.00. Suasana kamar yang panas membuat saya sulit tidur. Tapi Bayu, sudah ngorok sejak 2 jam yang lalu, beuhhh.

Kondisi kamar agak pengap dan panas. Tapi setidaknya bersih. Jendela menjadi pendingin alami kami selama stay di kamar tersebut.

 

Kamar mandi cukup bersihlah. Air juga lancar.

Keesokan paginya kami bangun jam 09.00 dan memutuskan untuk meninggalkan penginapan. Pagi itu, kami ingin mencari sop senerek sebagai menu sarapan kami. Karena penasaran dengan namanya yang unik dan jarang ditemui di daerah lain. Akhirnya kami menemukan warung makan di daerah Magelang kota yang menjual menu sop senerek. Kami memesan masing-masing seporsi nasi sop senerek dengan ceker serta teh manis sebagai pelepas dahaga. Ternyata sop senerek itu adalah sayur bening (kalau di Solo). Jadi isinya bayam dan wortel, hanya saja ada tambahan kacang merah. Kami berdua makan berdua habisnya Rp. 20.000. Murah kan, hehe..

Setelah makan, kami menuju ke Fiori. Fiori merupakan pusat oleh-oleh khas Magelang yang berlokasi di seputaran alun-alun kota Magelang. Sebenarnya kami tidak ingin mampir beli oleh-oleh. Disamping harus menuju ke arah Magelang kota, barang bawaan kami juga akan bertambah. Tapi berhubung yang titip adalah orang tua, maka tak apalah. Akhirnya kami pulang dari Magelang pukul 12.00 dengan mengambil rute yang sama.

Ini penampakan Fiori. Tempat pusat oleh-oleh kota Magelang.

Boleh dicoba. Kata pramuniaganya, getuk cake adalah produk baru.

 

Bonus. Julukan kota Magelang sebagai kota adipura nampaknya cukup sesuai. Lihat sendiri alasannya, hehe..

Keindahan kerlap kerlip lampion di malam Waisak membuat saya semakin mengagumi keanekaragaman yang dimiliki Indonesia. Malam itu terasa begitu damai melebur menjadi masyarakat yang bersatu. Tulusnya lantunan doa, indahnya tawa kebersamaan, serta eloknya cahaya lampion bak penerang dalam kegelapan membuat saya belajar untuk lebih memahami dan menghargai keberagaman.